Coki, Sahabat baru Sean

Sean adalah anak laki-laki berusia enam tahun. Ia anak yang ceria dan juga pemberani.

Setiap hari Minggu, Sean dan Papa biasanya pergi memancing bersama ke kolam yang tidak jauh dari rumah. Kadang-kadang Sean berhasil mendapatkan satu atau dua ekor ikan.

Namun, Minggu pagi itu Papa sedang ada urusan.

"Sean, hari ini Papa tidak bisa menemanimu memancing," kata Papa.

Sean sempat kecewa, tetapi kemudian tersenyum.

"Tidak apa-apa, Pa. Sean bisa pergi sendiri. Sean akan hati-hati!"

Setelah memakai baju yang nyaman, topi, sepatu, dan membawa botol minum, Sean pun berpamitan kepada Mama dan Papa.

"Kring... kring!"

Sepeda Sean melaju dengan santai.

Kolam pemancingan hanya berjarak sekitar sepuluh menit dari rumah. Sean sudah sangat mahir bersepeda di jalan itu.

Ketika melewati jalan yang berkelok, Sean memperlambat sepedanya.

"Kring... kring..."

Tiba-tiba...

"Eh?"

Sean mendengar suara aneh dari pinggir jalan.

"Whiiin... whiiin..."

Sean segera menghentikan sepedanya.

Di bawah sebuah pohon, terlihat seekor anak anjing berwarna cokelat sedang meringkuk. Tubuhnya lemas dan wajahnya terlihat sedih.

Sean langsung turun dari sepeda.

"Hei, teman kecil... kamu kenapa?"

Sean menggendong anak anjing itu dengan hati-hati.

"Loh! Kaki kamu berdarah!"

Anak anjing itu hanya merengek pelan.

"Whiiin..."

Sean merasa kasihan.

"Jangan takut. Aku akan menolongmu."

Sean segera memasukkan anak anjing itu ke dalam keranjang sepedanya.

"Kita pulang dulu, ya. Mama pasti bisa mengobatimu. Mama kan seorang dokter."

Sean kemudian mengayuh sepedanya.

"Kring! Kring!"

Kali ini Sean mengayuh sedikit lebih cepat.

"Tenang, ya. Sebentar lagi sampai."

Sesampainya di rumah...

"Mamaaa!"

Mama segera keluar dari rumah.

"Sean? Kok sudah pulang? Ada yang ketinggalan?"

"Ma, cepat! Aku menemukan anak anjing yang terluka!"

Mama melihat ke dalam keranjang.

"Ya ampun... kasihan sekali."

Mama segera membawa anak anjing itu ke dalam rumah dan memeriksa kakinya.

Setelah luka dibersihkan dan dibalut, anak anjing itu terlihat lebih tenang.

Sean tersenyum lega.

"Dia akan sembuh, kan, Ma?"

"Iya. Asalkan dirawat dengan baik."

Sean kemudian memberikan air minum.

"Nih, minum dulu. Kamu pasti haus."

Anak anjing itu minum sedikit demi sedikit.

"Au... au..."

Sean tertawa.

"Sepertinya dia sudah berterima kasih!"

Sean lalu mengusap kepalanya.

"Aku akan memberimu nama."

Sean berpikir sebentar.

"Hmm... karena bulumu cokelat, aku akan memanggilmu... Coki!"

"Au! Au!"

"Hahaha! Kamu suka namamu!"

Sejak hari itu, Sean merawat Coki dengan penuh kasih sayang sampai kakinya sembuh.

Sean memang tidak jadi pergi memancing hari itu.

Ia juga tidak mendapatkan ikan.

Tetapi Sean mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Sahabat baru.

Tamat. 🐶❤️

Comments

Popular posts from this blog

Dongeng Kelinci: Gara gara wortel

Dongeng Anak: Landak Kecil dan Duri Istimewanya

Dongeng anak: Mumut si Semut Kecil

Persib Bandung Tundukkan Selangor FC 2-0, Puncaki Klasemen Grup G AFC Champions League Two 2025

Menuju KPU Kabupaten Mempawah: Penugasan Pertama Sebagai CPNS Baru